Pemanfaatan Limbah Bunga Potong Menjadi Ekoenzim sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Organik Ramah Lingkungan di Desa Berjo, Karanganyar, Jawa Tengah
DOI:
https://doi.org/10.26714/uwc.v8.919-926.2025Keywords:
ekoenzim, bunga potong, limbah organik, pelatihan, Berjo KaranganyarAbstract
Latar belakang : Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, merupakan salah satu sentra produksi bunga potong di Jawa Tengah. Aktivitas budidaya dan penyortiran bunga potong menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar, terutama daun dan bunga yang tidak lolos seleksi pasar. Selama ini, limbah tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal dan cenderung langsung dibuang sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan. Salah satu solusi yang dilakukan kelompok mahasiswa KKN dan Tim pengabdian UNS adalah pelatihan pembuatan ekoenzim. Ekoenzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik yang daapt dimanfaatkan sebagai pupuk cair, pestisida alami, dan pembersih lingkungan. Kegiatan pelatihan melibatkan kelompok tani bunga potong dan petani anggrek Desa Berjo. Metode : Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif, di mana peserta dilibatkan secara langsung dalam setiap tahap pembuatan ekoenzim. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, praktik langsung pembuatan ekoenzim dari limbah bunga potong, serta pendampingan selama tahap fermentasi awal. Hasil : Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pengelolaan limbah organik. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dan berkomitmen untuk menerapkan pembuatan ekoenzim secara mandiri. Kesimpulan: Pelatihan ini menjadi langkah awal dalam penerapan konsep pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular di tingkat desa.
____________________________________________________________________
Abstract
Background : Ngargoyoso District, Karanganyar Regency, is one of the centers of cut flower production in Central Java. Cultivation and sorting of cut flowers generate large amounts of organic waste, particularly from leaves and flowers that do not pass market selection. This waste has not been optimally utilized and tends to be directly discarded, creating environmental problems. As a solution, a community service activity was conducted in the form of training in the production of ecoenzymes, a liquid produced by the fermentation of organic waste that is useful as a liquid fertilizer, a natural pesticide, and an environmental cleanser. The training involved cut flower and orchid farmer groups in Berjo Village. Method : The training was carried out using a participatory approach, where participants were directly involved in every stage of ecoenzyme production. The implementation method included socialization, hands-on practice in making ecoenzymes from cut flower waste, and mentoring during the initial fermentation stage. Result : The results of the activity showed an increase in participants' knowledge and skills in organic waste management. Participants also demonstrated high enthusiasm and commitment to implementing ecoenzyme production independently. Conclusion : This training is the first step in implementing the concepts of sustainable agriculture and a circular economy at the village level.
References
K. F. Rahmawati, “Pengelolaan Limbah Organik Pertanian di Kawasan Wisata,” Jurnal Pengabdian Agrotek, vol. 5, no. 2, pp. 45–52, 2022.
A. T. Suryani, “Pemanfaatan Ekoenzim sebagai Alternatif Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga,” Jurnal Teknologi Lingkungan, vol. 23, no. 1, pp. 15–21, 2023.
T. Chen, M. K. Wong, and H. C. Leung, “Eco-Enzyme Production and Its Environmental Applications,” Environmental Science Reports, vol. 11, pp. 102–110, 2020.
N. S. Prasetyo and D. Lestari, “Pelatihan Pembuatan Ekoenzim Berbasis Limbah Pertanian untuk Masyarakat Desa,” Jurnal Abdimas Agro, vol. 4, no. 1, pp. 67–73, 2023.
W. Hidayat, R. Arifin, and S. Dewi, “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Limbah Organik Menjadi Produk Ramah Lingkungan,” Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan, vol. 2, no. 3, pp. 88–95, 2022.


